Marc Marquez siap menyambut musim MotoGP 2025, dan perhatian kini tertuju padanya setelah bergabung dengan Ducati, tim terkuat di kelas utama. Ia menunjukkan performa impresif selama pramusim, terutama saat mendominasi tes terakhir di Buriram. Namun, yang tak kalah menarik adalah bagaimana hubungan kerjanya dengan rekan setim barunya, Pecco Bagnaia.
Kedua pembalap ini, yang sama-sama mengincar gelar juara dunia tahun ini dengan Desmosedici GP25, tampaknya telah membangun hubungan yang solid. Marquez dan Bagnaia sering terlihat berdiskusi tentang motor, berbagi pengalaman, dan bekerja sama erat di Malaysia dan Thailand untuk mempersiapkan mesin, sasis, dan paket aerodinamis yang akan digunakan di musim mendatang.
Dalam sebuah wawancara pada Senin (17/2/2025) di program ‘El Hormiguero’ di Antena 3, Marquez mengungkapkan bahwa hubungan mereka berjalan baik berkat kedewasaan yang datang seiring bertambahnya usia. Ia menggambarkan Bagnaia sebagai seorang “gentleman”, meskipun ia juga mengakui bahwa Pecco bisa sangat agresif di lintasan saat dibutuhkan.
Saat ditanya tentang potensi konflik antara mereka yang memiliki semangat kompetitif tinggi, Marquez menjawab dengan bijak. “Jika Anda menempatkan dua ayam jantan di kandang yang sama pada usia 22 atau 25 tahun, itu akan menjadi masalah. Namun, kami berdua sudah lebih dewasa. Pecco berusia 27 tahun, dan saya 32 tahun,” ujarnya.
Marquez menekankan bahwa meskipun mereka harus bersaing di lintasan, mereka tetap bisa menjaga hubungan baik di luar sirkuit. “Kami tahu bahwa dari balapan pertama hingga terakhir, setiap orang akan menjaga kepentingannya sendiri di lintasan. Tapi di luar itu, saya bisa membedakan. Saat saya berusia 20 tahun, saya tidak bisa melihatnya,” tambahnya.
Ia juga menyoroti sifat tenang Bagnaia, yang meskipun bersikap tenang di luar lintasan, tetap menjadi petarung yang tangguh saat balapan. “Jika harus menempatkan motornya, ia akan melakukannya. Namun, di luar lintasan, ia adalah pria sejati yang tidak pernah meninggikan suaranya,” jelas Marquez.
Marquez juga berbicara tentang tantangan yang dihadapinya selama beberapa tahun terakhir terkait pengembangan motornya. Ia dikenal sebagai pembalap yang beradaptasi dengan segala jenis motor yang diberikan kepadanya. Setelah musim dingin yang penuh keraguan di Ducati, di mana ia harus berjuang untuk beradaptasi sebagai pembalap pabrikan, Marquez mengakui bahwa peran tersebut bukanlah yang ia inginkan.
“Di Honda, saya berjuang di setiap balapan untuk berada di urutan kesepuluh atau kesebelas. Saya tidak bisa menerima itu. Seorang pembalap bisa mengembangkan motor, tapi saya bukan pembalap yang mengembangkan motor. Saya adalah pembalap yang ingin menang,” tegasnya.
Marquez menjelaskan bagaimana ia mendekati HRC untuk mencari kesempatan baru. “Saya memberi tahu mereka bahwa saya ingin pergi ke tim satelit untuk melihat apakah saya masih kompetitif. Saya tidak akan pergi ke tim pabrikan karena itu akan lebih sulit. Mereka memahami keputusan saya,” ungkapnya.
Keputusan untuk meninggalkan Honda bukanlah hal yang mudah bagi Marquez. Ia merasa harus membuat pilihan yang egois demi kariernya. “Saya meninggalkan tim dan teman-teman saya di Honda. Namun, prioritas saya adalah menjawab kepada diri saya sendiri apakah saya masih kompetitif,” katanya.
Setelah bergabung dengan Gresini, Marquez merasa mengambil risiko yang besar. “Ini seperti investasi dalam karier balap saya. Jika saya kompetitif, banyak hal akan terjadi. Saya tahu kontrak saya akan segera berakhir, dan jika saya melakukannya dengan baik di Gresini, saya memiliki peluang untuk bergabung dengan tim pabrikan,” jelasnya.
Marquez menekankan pentingnya mencoba, meskipun ada risiko kegagalan. “Bagi saya, kegagalan bukanlah ketika Anda mencoba dan gagal. Kegagalan adalah ketika Anda tidak mencoba sama sekali. Saya sudah mencoba, dan sekarang saya berada di tim terbaik dengan motor terbaik. Ini ada di tangan saya untuk meraih gelar lagi,” tutupnya.
Dengan semangat dan dedikasi yang ditunjukkan oleh Marquez dan Bagnaia, musim MotoGP 2025 menjanjikan persaingan yang menarik dan penuh tantangan. Para penggemar di Indonesia tentu tidak sabar menunggu aksi keduanya di lintasan balap!